seperti janji saya tadi..... tulisan sebelumnya "introvert----lengkapnya disini :
Saya tertarik dengan tulisan yang sangat indah yang dibuat oleh Jonathan Rauch…. Sangat sesuai dengan bagaimana saya,
Pernah ketemu dengan orang butuh waktu menyendiri berjam-jam tiap harinya ? atau orang yang kita mesti berusaha dan menarik-nariknya hanya untuk pergi ke pesta atau keluar ? atau orang yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu yang hebat didepan umum tapi canggung begitu berada dalam kelompok yang kecil ?
Yang selalu ada orang yang berkata kepadanya “ kamu kok garing ?”, “kok diam?”, “kamu sakit ya” dan menganggapnya penyendiri, sombong, pendiam, orang yang serius dan pemalu serta butuh waktu seharian “untuk penyegaran diri” .
Kalau jawabannya iya berarti anda telah bertemu dengan seorang introvert.
Orang-orang yang sering mendapat perlakuan yang tidak baik. Menurut hasil riset, orang-orang Introvert bisa jadi orang yang biasa saja, tapi mereka juga adalah salah satu kelompok masyarakat yang paling kerap disalahpahami dan dirugikan di Amerika, dan mungkin juga di dunia (tidak terkecuali di Indonesia).
Saya….,Saya adalah seorang introvert.
Sejak saya menyadari kalau pergaulan itu penting, kalau punya banyak teman itu sangat baik, kalau disenangi orang itu menyenangkan, kalau bisa banyak bicara dalam suatu kelompok itu selalu diharapkan, saya kemudian berusaha untuk menyangkal siapa saya sebenarnya. saya kemudian mengingkari siapa saya sebenarnya dan selalu berusaha untuk tidak jadi seperti saya sebenarnya, saya akhirnya bisa bergaul, saya punya lumayan banyak kenalan ( bukan teman. Hanya yang tiap ketemu, say hi ) saya bisa keluar dengan teman-teman, pada dasarnya saya bukannya pemalu, saya bukan pemurung atau tidak suka dengan orang lain, saya juga bisa bekerja dalam kelompok dengan baik, dengan begitu saya bisa terlepas dari stereotip dan kesalahpahaman introvert yang menyakitkan.
Tak bisakah orang-orang menghormati para introvert ? dan berhenti “menyiksanya”
Orang introvert tidak selamanya pemalu, orang yang pemalu adalah orang yang sedang mengalami kecemasan atau menjauhkan diri dari lingkungan sosial atau takut. Orang introvert tidak anti orang lain, mereka hanya merasa bahwa orang lain itu “melelahkan “ sangat berbeda dengan orang ekstrovert.
Saya sangat senang mendengar hasil riset panjang Jonathan di google yang mendapati bahwa orang introvert adalah : “kelompok minoritas di antara kebanyakan orang, tapi mayoritas di antara populasi orang-orang berbakat.”
Orang introvert sangat selalu disalahpahami, sangat menyedihkan. Orang-orang ekstrovert sangat sukar untuk memahami orang-orang introvert. Mereka menganggap bahwa rekannya ini akan selalu dengan senang hati menyambut baik dan membukakan pintu. Mereka tak bisa membayangkan bahwa ada orang yang perlu menyendiri; bahkan tidak jarang merasa tersinggung bilamana ada yang berniat seperti itu. Seperti yang konon pernah diucapkan Coolidge, “Tahukah anda bahwa empat dari
lima
keruwetan hidup ini akan pupus bilamana kita bisa duduk dan diam?” (Dia juga konon pernah mengatakan, “Bila kita tak berbicara apa-apa, kita tak akan dituntut untuk mengulanginya.” Satu-satunya hal yang dibenci kaum introvert lebih dari berbicara tentang dirinya adalah mengulangi sesautu yang sudah jelas di dengar).
. Introvert, digambarkan sebagai orang yang ‘berhati-hati’, ‘penyendiri’, ‘pendiam’, ‘pelamun’ — kata-kata yang sempit dan tidak berperasaan yang menunjukkan kepribadian yang pelit dan emosional ( saya selalu dianggap seperti itu ). Perempuan introvert, pastinya, adalah yang paling tersiksa (sungguh menyedihkan). Di lingkungan atau budaya tertentu, seorang laki-laki terkadang masih bisa bertahan dengan julukan semacam ‘kaku’ dan ‘pendiam’. Dibandingkan laki-laki, perempuan introvert lebih cenderung dianggap ‘pemalu’, ‘penyendiri’, ‘angkuh’ ( banyak yang mengatakan kalau saya seperti itu ).
Sepertinya kesalahpahaman ini lantaran karakter introvert yang lebih cerdas ( saya ragu pada yang satu ini ), lebih reflektif, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan sensitif dibandingkan ekstrovert (kalo yang ini saya rasa iya). Mungkin juga karena kaum introvert sedikit bicara, suatu kelemahan yang selalu dicela kaum ekstrovert. Parah sekali bahwa kaum ekstrovert selalu tidak menyadari tekanan yang mereka timpakan pada kami orang introvert. Tapi kami mencoba menerima keadaan ini dengan tenang, karena ajaran dan budaya tentang etiket dan sopan santun yang selalu menganggap tak mau berbasa-basi itu sebagai tidak sopan dan sedikit berbicara itu sebagai kejanggalan.
Saya menulis ini hanya untuk menggambarkan bagaimana karakter kami yang sebenarnya orang-orang introvert bila karakter kami ini dipahami lebih luas, atau barangkali ketika gerakan hak asasi kaum introvert mulai merekah dan berbuah, bukan lagi suatu hal yang kasar bila mengatakan, “Saya introvert. Anda orang hebat dan saya menyukai anda. Tapi mohon sekarang diamlah. Dan jangan selalu memaksa saya untuk bicara banyak (dan melompat-lompat serta menggonggong seperti anak anjing lucu hanya supaya disenangi).
Seperti Jonathan (yang menjadi inspirasi utama tulisan ini) saya ingin memberitahukan pada kaum mayoritas ekstrovert bahwa ini bukanlah pilihan. Bukan pula
gaya
hidup. Introvert adalah sebuah orientasi (bagaimana seseorang menempatkan diri dlm lingkungannya, kecenderungan terhadap pola tingkah laku tertentu, arah atau kaitannya dgn org2, konsep2 dan prinsip2nya, terjmhn kamus psi. Kartini, Kartono-).
bilamana kita mendapati seorang introvert kehilangan kata-kata, jangan berkata, “Hei, ada apa?” atau “ kamu kok, garing ? “atau “Kamu baik-baik saja?” atau “ kamu sakit ? “ atau “ kok, kamu diam ?” atau “apa ? tadi kamu ngomong apa ? (kaum introvert sangat tidak suka mengulangi kata-kata yang sebenarnya sudah jelas didengar)”
dan saya ( juga kaum introvert lainnya ) adalah seperti itu.
Mohon mengertilah…………….kami memang seperti itu, jangan paksa kami mengingkarinya…………………………
Saya senang dengan introvertku, dan saya bersyukur tidak menjadi orang ekstrovert karena saya tau, betapa itu akan sangat melelahkanku…
Sebagian kata2 dikutip dari tulisan Jonathan Rauch
nb:diambil dr tulisan blogx widya,tp udh ckp mwakili
Pernah ketemu dengan orang butuh waktu menyendiri berjam-jam tiap harinya ? atau orang yang kita mesti berusaha dan menarik-nariknya hanya untuk pergi ke pesta atau keluar ? atau orang yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu yang hebat didepan umum tapi canggung begitu berada dalam kelompok yang kecil ?
Yang selalu ada orang yang berkata kepadanya “ kamu kok garing ?”, “kok diam?”, “kamu sakit ya” dan menganggapnya penyendiri, sombong, pendiam, orang yang serius dan pemalu serta butuh waktu seharian “untuk penyegaran diri” .
Kalau jawabannya iya berarti anda telah bertemu dengan seorang introvert.
Orang-orang yang sering mendapat perlakuan yang tidak baik. Menurut hasil riset, orang-orang Introvert bisa jadi orang yang biasa saja, tapi mereka juga adalah salah satu kelompok masyarakat yang paling kerap disalahpahami dan dirugikan di Amerika, dan mungkin juga di dunia (tidak terkecuali di Indonesia).
Saya….,Saya adalah seorang introvert.
Sejak saya menyadari kalau pergaulan itu penting, kalau punya banyak teman itu sangat baik, kalau disenangi orang itu menyenangkan, kalau bisa banyak bicara dalam suatu kelompok itu selalu diharapkan, saya kemudian berusaha untuk menyangkal siapa saya sebenarnya. saya kemudian mengingkari siapa saya sebenarnya dan selalu berusaha untuk tidak jadi seperti saya sebenarnya, saya akhirnya bisa bergaul, saya punya lumayan banyak kenalan ( bukan teman. Hanya yang tiap ketemu, say hi ) saya bisa keluar dengan teman-teman, pada dasarnya saya bukannya pemalu, saya bukan pemurung atau tidak suka dengan orang lain, saya juga bisa bekerja dalam kelompok dengan baik, dengan begitu saya bisa terlepas dari stereotip dan kesalahpahaman introvert yang menyakitkan.
Tak bisakah orang-orang menghormati para introvert ? dan berhenti “menyiksanya”
Orang introvert tidak selamanya pemalu, orang yang pemalu adalah orang yang sedang mengalami kecemasan atau menjauhkan diri dari lingkungan sosial atau takut. Orang introvert tidak anti orang lain, mereka hanya merasa bahwa orang lain itu “melelahkan “ sangat berbeda dengan orang ekstrovert.
Saya sangat senang mendengar hasil riset panjang Jonathan di google yang mendapati bahwa orang introvert adalah : “kelompok minoritas di antara kebanyakan orang, tapi mayoritas di antara populasi orang-orang berbakat.”
Orang introvert sangat selalu disalahpahami, sangat menyedihkan. Orang-orang ekstrovert sangat sukar untuk memahami orang-orang introvert. Mereka menganggap bahwa rekannya ini akan selalu dengan senang hati menyambut baik dan membukakan pintu. Mereka tak bisa membayangkan bahwa ada orang yang perlu menyendiri; bahkan tidak jarang merasa tersinggung bilamana ada yang berniat seperti itu. Seperti yang konon pernah diucapkan Coolidge, “Tahukah anda bahwa empat dari
lima
keruwetan hidup ini akan pupus bilamana kita bisa duduk dan diam?” (Dia juga konon pernah mengatakan, “Bila kita tak berbicara apa-apa, kita tak akan dituntut untuk mengulanginya.” Satu-satunya hal yang dibenci kaum introvert lebih dari berbicara tentang dirinya adalah mengulangi sesautu yang sudah jelas di dengar).
. Introvert, digambarkan sebagai orang yang ‘berhati-hati’, ‘penyendiri’, ‘pendiam’, ‘pelamun’ — kata-kata yang sempit dan tidak berperasaan yang menunjukkan kepribadian yang pelit dan emosional ( saya selalu dianggap seperti itu ). Perempuan introvert, pastinya, adalah yang paling tersiksa (sungguh menyedihkan). Di lingkungan atau budaya tertentu, seorang laki-laki terkadang masih bisa bertahan dengan julukan semacam ‘kaku’ dan ‘pendiam’. Dibandingkan laki-laki, perempuan introvert lebih cenderung dianggap ‘pemalu’, ‘penyendiri’, ‘angkuh’ ( banyak yang mengatakan kalau saya seperti itu ).
Sepertinya kesalahpahaman ini lantaran karakter introvert yang lebih cerdas ( saya ragu pada yang satu ini ), lebih reflektif, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan sensitif dibandingkan ekstrovert (kalo yang ini saya rasa iya). Mungkin juga karena kaum introvert sedikit bicara, suatu kelemahan yang selalu dicela kaum ekstrovert. Parah sekali bahwa kaum ekstrovert selalu tidak menyadari tekanan yang mereka timpakan pada kami orang introvert. Tapi kami mencoba menerima keadaan ini dengan tenang, karena ajaran dan budaya tentang etiket dan sopan santun yang selalu menganggap tak mau berbasa-basi itu sebagai tidak sopan dan sedikit berbicara itu sebagai kejanggalan.
Saya menulis ini hanya untuk menggambarkan bagaimana karakter kami yang sebenarnya orang-orang introvert bila karakter kami ini dipahami lebih luas, atau barangkali ketika gerakan hak asasi kaum introvert mulai merekah dan berbuah, bukan lagi suatu hal yang kasar bila mengatakan, “Saya introvert. Anda orang hebat dan saya menyukai anda. Tapi mohon sekarang diamlah. Dan jangan selalu memaksa saya untuk bicara banyak (dan melompat-lompat serta menggonggong seperti anak anjing lucu hanya supaya disenangi).
Seperti Jonathan (yang menjadi inspirasi utama tulisan ini) saya ingin memberitahukan pada kaum mayoritas ekstrovert bahwa ini bukanlah pilihan. Bukan pula
gaya
hidup. Introvert adalah sebuah orientasi (bagaimana seseorang menempatkan diri dlm lingkungannya, kecenderungan terhadap pola tingkah laku tertentu, arah atau kaitannya dgn org2, konsep2 dan prinsip2nya, terjmhn kamus psi. Kartini, Kartono-).
bilamana kita mendapati seorang introvert kehilangan kata-kata, jangan berkata, “Hei, ada apa?” atau “ kamu kok, garing ? “atau “Kamu baik-baik saja?” atau “ kamu sakit ? “ atau “ kok, kamu diam ?” atau “apa ? tadi kamu ngomong apa ? (kaum introvert sangat tidak suka mengulangi kata-kata yang sebenarnya sudah jelas didengar)”
dan saya ( juga kaum introvert lainnya ) adalah seperti itu.
Mohon mengertilah…………….kami memang seperti itu, jangan paksa kami mengingkarinya…………………………
Saya senang dengan introvertku, dan saya bersyukur tidak menjadi orang ekstrovert karena saya tau, betapa itu akan sangat melelahkanku…
Sebagian kata2 dikutip dari tulisan Jonathan Rauch
nb:diambil dr tulisan blogx widya,tp udh ckp mwakili
tapi kalo bulz ambil dari seorang sobat di kota penuh cerita.. thx ya...walo belum pamit
greaT article
No comments:
Post a Comment